Senin, 08 September 2014

Alat-alat yang Penting untuk men-Trigger (memicu) Lampu Studio


Terkadang, setelah kita memiliki, atau bahkan baru merencanakan terjun ke lighthing studio fotografi, kebutuhan dasarnya (basic needs) lampu minimal 2 titik, beserta stand, sofbox dan payung yg juga sepasang.  bahkan banyak yg lampunya lebih dari 3 titik sudah dimiliki.

Seringnya kita lupa mengkategorikan peralatan pendukung selanjutnya sebagai basic needs atau luxuries needs ?

contoh : trigger lampu studio kita. masuk kedalam kategori apa ?
barang pokok yg mendasar atau kebutuhan yg bersifat lux ?

"sebelum kita membayangkan lampu studio kita sudah tertata apik, namun trigger tidak ada...wkwkwkwk
yuk kita kupas sedikit mengenai jenis-jenis trigger lampu studio ?"

Atau jika sudah membaca tulisan sbb :
1. Mengenal Fungsi-Fungsi Tombol Lampu Studio & Cara Pakainya
2.  (TIPS) Memasang Softbox


Kalau melihat dari jenis kamera kita.  Terdapat flash built in (pop up flash)



 dan flash eksternal kita...

Kedua flash kamera kita ini bisa dalam kondisi manual power dan  di pilih auto power (bahkan TTL)



 TTL :
Through the Lens. artinya, pengaturan kekuatan output flash yang ngikutin pengaturan cahaya yang melewati lensa.  Artinya, pengaturan kekuatan output flash yang otomatis.
seperti terprogram mendeteksi situasi cahaya yg ada, kemudian mengisi dgn cahaya dari flash eksternal anda secara "pas menurut program". 

Manual :
power flash dpat diatur secara manual keluarannya, dari 1 full power trus ke 1/4 turun powernya bahkan sampai 1/32 makin halus cahaya yg keluar


 Dalam aplikasinya untuk memicu lighting studio :

Flash kamera ini dalam bantuannya untuk memicu lampu studio, harus ter set manual.
Tidak boleh TTL.  Jika ter set "auto" atau TTL.  Memang bisa menyalakan lampu studio anda, namun tidak terekam (lihat arah cahaya yg jatuh kemodel, pasti dari arah anda) coba taruh lampu studio disamping model.
Cek pas saat flash ada auto or TTL, adakah arah cahaya dari samping difoto yg tertangkap ?
Tentunya tidak, karena program auto/TTL bekerja mendeteksi cahaya lampu saat itu (ambience light), sementara flash studio anda belum mengeluarkan cahaya.  Sehingga ketika kita flash...mereka tidak bekerja sama, yg tampak di LCD kita cahaya dari arah depan (dari flash eksternal kita).
Dan ini bukan masalah "lag" atau jeda, lampu studio yg disamping tidak terekam padahal flashnya nyala.
Tapi program TTL "lupa baca", karena perintah cahaya keluar diukur dari available light (cahaya yg ada melewati lensa saat itu), disaat kita 1/2 shutter sekalian ambil fokus suatu komposisi, disini flash light studio kan diam tidak nyala.  Disitu pokok permasalahannya.

Jadi bermain lighting studio hukumnya wajib men set flash anda sebagai trigger pada posisi manual power.
mari kita bahas satu persatu hal tersebut

1.  Internal Flash/flash built ini (pop up flash)




Umumnya kamera pada internal flashnya sudah ter set "auto" atau TTL. saya ingatkan kembali,  Posisi TTL asal flash kamera nyala, memang bisa mentrigger lampu studio anda, namun tidak terekam, dibawah ini saya ingin mentriger lampu studio pakai sensor slave (mata kucing lingkar merah) di belakang lampu studio


Jika diatas lampu tidak ada, kadang bola merah ada yg warna bening di merk lain, atau hitam, perhatikan foto bawah pada h. sycro contoller, samping bulat hijau, yg warna hitam,  di body lampu berada dibelakang, berlogo "remote" ini lah sensor cahaya (slave/mata kucing) tertanam disetiap lampu secara umum.  Jika tersinggung cahaya dia akan mentrigger lampu studio nyala flashnya.


Selama cahaya flash dari kamera kita kena ke bola merah kecil atau lampu remote itu, flash studio akan terpicu nyala (slave on).   Difoto bawah posisi lampu di kanan pojok (lingkar merah) karena sampingny tembok, walau posisi sensor slave di belakang atas lampu, karena pantulan tembok flash akan ke trigger nyala.
Kemudian saya coba foto, namun internal flash saya masih posisi auto (TTL), lihat foto bawah, flash studio saya kena namun tidak terasa cahaya kanan studio ? 
Cahaya terlihat dari hasilnya datang dari arah kamera saja, padahal lampu studio dikanan belakang ikut nyala.


Disini lah penyebab TTL yg dibahas di awal tulisan ini.  Karena program auto/TTL bekerja mendeteksi cahaya lampu saat itu (ambience light), sementara flash studio anda belum mengeluarkan cahaya, belum ditriger.  Sehingga ketika kita flash...mereka tidak bekerja sama, yg tampak di LCD kita cahaya dari arah depan (dari flash kamera kita).  Lihat contoh lagi difoto bawah

motret dgn posisi TTL pada internal flash
Dan ini bukan masalah "lag" atau jeda, lampu studio yg disamping tidak terekam padahal flashnya nyala.
Tapi program TTL "lupa baca", karena perintah cahaya keluar diukur dari available light (cahaya yg ada melewati lensa saat itu), disaat kita 1/2 shutter sekalian ambil fokus suatu komposisi, disini flash light studio kan diam tidak nyala.  Disitu pokok permasalahannya.

Jadi bermain ligthing studio hukumnya wajib men set flash anda sebagai trigger pada posisi manual power.
Untuk berjalan seiring sejauh ini hanya kamera seri Nikon yg bisa menset internal flashnya ke manual power.

Caranya (jika nikon) masuk ke menu setting, pilih flash mode, pilih manual (TTL off-kan) kemudian manual powernya set power terendah (1 = full dan 1/32 power terendah boleh lebih rendah lagi, namun takutnya cahaya tidak sampai ke sensor slave studio).  Kurangin cahaya seperlunya, sehingga konsep cahaya studio kita bersih, tidak dibocori oleh flash kamera kita ketika mentrigger.
kamera nikon, internal flashnya bisa di set manual





 pilih power flash yg rendah

setelah di set manual internal flash kamera dan power dikurangin, lihat foto berikut


lampu studio yg disamping kanan belakang terekam, dan cahaya internal flash tidak mengganggu dari depan, sehingga konsep cahaya studio kita bersih, tidak dibocori oleh flash kamera kita ketika mentrigger.

Disini flash internal kamera yg kaku dan frontal kedepan arah cahayanya, saya coba bloking di area kiri pakai tangan, namun masih mengena sensor slave di lampu studio yg berada dikanan.



Cara lain agar internal flash nggak frontal cahaya kedepan namun masih dapat memicu sensor slave di lampu studio, pakai acesoris internal flash sbb :


Cahaya frontal diarahkan keatas dan kebawah serta samping kiri dan kanan, sehingga cahaya jatuh ke model tidak flat, karena tidak ada yg datang dari depan.
Untuk kamera lain selain mayoritas nikon, yg tidak bisa menset internal flashnya ke posisi manual power, pakai saja flash eksternal anda atau trigger lainnya dibawah ini.


2.  Flash Eksternal (manual & TTL)






Jika eksternal flashnya yg bisa di set "auto" atau TTL.  Kembali diingatkan,  memang bisa menyalakan lampu studio anda,  namun tidak terekam sempurna, dibawah ini saya ingin mentriger lampu studio pakai sensor slave (mata kucing lingkar merah) di belakang lampu studio


Seperti yg kita ketahui, selama cahaya flash dari kamera kita kena ke bola merah kecil sensor slave (mata kucing lingkar merah) di belakang yg logo remote pada lampu jenis lain, flash studio akan terpicu nyala (slave on). 



Karena program auto/TTL bekerja mendeteksi cahaya lampu saat itu (ambience light, cahaya yg masuk ke lensa sat diukur), sementara flash studio anda belum mengeluarkan cahaya, belum ditriger.  Sehingga ketika kita flash...mereka tidak bekerja sama, yg tampak di foto diatas cahaya dari arah depan (dari flash kamera kita) terlihat juga bayangan khas, padahal lampu kanan depan juga nyala ?

Masuk kemenu setting pada flash body eksternal (contoh foto SB 28 Nikon) pilih manual power (TTL off), kemudian manual powernya set pada power rendah (angka besar) 1 = full power danbisa 1/64 yg paling rendah powernya.  Sehingga konsep cahaya studio kita bersih, tidak dibocori oleh flash eksternal kita ketika mentrigger

saya pilih manual 1/64


bro andi yg sedang belanja lampu studio ke tempat kita, langsung dijadikan model dadakan, disini baru terlihat sumber cahaya dari kanan.



3. IR (Infra Red) trigger 



Cara kerja hampir sama dgn flash, mengeluarkan sinar
untuk mengena ke arah bola merah kecil sensor slave (mata kucing lingkar merah) di belakang atau atas lampu studio, flash studio akan terpicu nyala (slave on). 
 
Jika cahaya di tembak frontal kearah model yg dekat, dapat efek warna merah, karena sinar IR trigger...


 ini lagi....IR trigger tidak di bounching ke atas, kena efek merah




Untuk jarak model yg dekat, bounching (arah
keatas) IR trigger anda



Sehingga cahaya merah tidak mengganggu model

Dari ketiga jenis trigger diatas ini, kita stop dahulu, mengurai jenis trigger lainnya.

Ke 3 jenis trigger diatas mensensor lampu studio dgn sensor cahaya (slave). 
Ketika shutter kita tekan, flash menyala, sekejap menyambar sensor built in (slave) yg tertanam ditubuh lampu studio secara umum.  Disini tidak terjadi "lag" atau jeda.  Semua serempak menyala.



Ketika shutter kita tekan, flash menyala, sekejap menyambar sensor built in (slave) yg tertanam ditubuh lampu studio secara umum.  Disini tidak terjadi "lag" atau jeda.  Semua serempak menyala.

Untuk didalam studio sangat mantap.  Kita bisa kontrol lampu sendiri, pakai power flash trigger kita cahaya kecil, bisa nyaber, karena dinding dan plafon maupun lantai turut memantulkan cahaya.

Namun dipublic area, gedung pertemuan atau acara wedding, trigger diatas sedikit memiliki kendala
Karena prinsip kerja ke 3 trigger diatas.  "Flash dari kamera menyala, sekejap menyambar para flash studio melalui media slavenya".

Sangat diperlukan posisi flash trigger kita mengarah ke sensor slave lampu studio.  Dapat juga memperkirakan pantulan flash kita ke sensor slave studio


Silahkan diposisi mana saja, asal pancaran cahaya dari kamera kita, mesti mengena ditempat ditanamkan sensor slave lampu studio (biasanya dibelakang atau diatas lampu studio)

Jika lampu studio kita tidak nyala, sementara trigger kita nyala, maka cahaya dari kita tidak bersinggungan dgn sensor slave lampu studio.

Rubah posisi (siapa tahu anda membelakangi lampu) dan menggunakan prinsip pantulan (bounching) metode bola billiard, jika ingin cahaya dari kita kena ke sensor slave lampu studio (disamping sensor bisa ditaruh cermin kecil jika ingin membentuk perantara arah cahaya) jika menggunakan metode arah pantulan bola billiard.

Namun jika kondisi berkata lain ? makin sulit menyala di public area.
Perhatikan sekitar kita, biasanya ada lampu yg lebih terang didekat lampu studio kita.


 
Adanya lampu video ?

Sensor dilampu studio, slave (h.s
yncro controller) dekat bulat hijau, persisnya yg bulat hitam, atau lampu merah sensor bulat kecil tadi diatas, Isinya telah penuh menyimpan sinar yg lebih keras, ketika disentuh cahaya flash kita, bermaksud untuk mentrigger, sensor tidak respon.  Bego geto lo...Flash studio tidak akan menyala.

Hang sensor....solusinya, matikan lampu anda sekejap, test button (untuk nyalain test flash lampu studio) buang simpanan flash, selanjutnya buat pembatas untuk menahan cahaya keras lampu video, sensor tetap teduh.  Sehingga cahaya kita bisa menyentuh sensor tersebut yg belum diresapi, dan tidak terkontaminasi dgn cahaya asing, dan trigger dibukakan atau dikondisikan pada akhirnya cahaya trigger cahaya kita menyentuh lampu slave pada ligthing tsb.  Disini lampu studio kita dapat menyala.


Untuk trigger ke 1.  Internal Flash diset manual, sedikit kamera yg bisa, jadi tidak dominan.


 

Untuk trigger ke 2.  Flash eksternal
 


Keunggulannya :
1.  Biasanya pemilik kamera sudah memiliki ini
2.  Bisa membantu mengisi cahaya tengah (atas dgn bounching) suatu komposisi
3.  Bisa mentrigger lampu studio saat di set manual, dan sigap mengejar liputan tanpa studio, dengan fasilitas TTL atau auto flash nya

Kelemahannya : 

1.  Batterai boros, dibanding dgn ketersediaan lampu studio yg standby power dari aliran listrik
2.  Setting kamera tidak tetap, bergerak turun seiring lemahnya batterai flash, sementara lampu studio, powernya tetap dengan energi listriknya
3.  Kadang karena jarak jauh, kita menambah power flash eksternal untuk dapat menyentuh sensor lampu studio, power nambah, cahaya bocor juga ke obyek kita.
dan kalau membelakangi lampu studio, sensor flash studio tidak tersentuh.  Kita tidak dapat mentrigger lampu studio kita.
4.  Harganya mahal, bisa satu paket lampu studio yg ditawarkan di blog ini
cukup satu kita miliki ini pada tahap awal, kalau lampu studio lebih dari 1 idealnya.


Untuk trigger ke 3. IR Trigger



Keunggulannya :
1.  Batterai hemat, tahan lama, butuh power sedikit saja, karena itu, batterai ganti yg sudah mau habis di flash eksternal kita bisa untuk IR trigger ini...hehehe hemat
2.  Karena hanya mengeluarkan flash merah kecil, ketahanan mekanikalnya simpel dan tahan lama jadinya
3.  Bisa mentrigger lampu studio.  Jika trigger lain sedang bermasalah
4.  Cocok di studio, karena space ruang dan yg motret sedikit untuk memanfatkan slave

Kelemahannya :
1.  Jika obyek terlalu dekat, dan lupa bounching, kena efek merahnya
2.  Kadang karena jarak jauh, kita tidak dapat menyentuh sensor lampu.
3. 
Kalau posisi fotografer membelakangi lampu studio, sensor flash studio tidak tersentuh cahaya IR trigger.  Lampu studio kita tidak respon.  Flash tidak nyala.

 ------------------------------------------------------------------------------------------------------

Selain memiliki sensor slave yg tertanam dalam tubuhnya, lampu studio memiliki sensor lainnya, yaitu wireless, secara gelombang radio, atau sejenis itu
Bisa juga secara kabel sycro (yg kabel ini tidak dibahas, kabel syncro biasanya sudah termsuk dalam paket lampu)

Wireless/Radio Trigger ini masuk kedalam trigger ke 4




DC :
Menggunakan batterai AA atau AAA
, tergantung merk.  Yg sample dibawah pakai AAA.  Jika kita memiliki banyak jenis lampu, sebaiknya trigger ini yg dipakai, karena DC tidak memandang jenis dudukan socket power.  Cukup tancap di lubang Sync Cable Socket.  Begitu juga pakai mobilite untuk out door, jenis ini yg dipakai.

 flash mobilite for outdoor with trigger DC





Lihat Sync Cable Socket, disini dipasang receiver pakai jenis colokan yg kecil, untuk trigger AC pada lampu jumbo ini tidak bisa.  Karena colokan powernya dudukan seri 2.  Jadi jumbo juga mobillite outdoor yg colokan powernya beda cuma bisa memakai trigger seri DC.





AC : Menggunakan energi listrik pada receivernya. Hemat, hanya lampu studio yg dudukan socket power 3 seri yg bisa menggunakannya 






Secara fungsi AC dan DC sama.
Didalamnya terdapat channel radio, angka kecil 1&2, yg harus kita buat formasi angka yg sama antara trigger dan receiver, agar saling mengenal, terdapat 1  dan 4 alternatif pilihan/channel.

 



Dalam lampu tertentu dalam hal ini saya memakai produk Tronic Lead Power 250w, lihat logo mata di kiri, diatas tulisan sync, itu merupakan tombol on - off slave

Ketika posisi slave kita buat off, jika ada fotografer lain yang memakai flash menyala, dia tidak dapat menyambar lampu studio kita, karena slave (mata kucing) sudah kita matikan.  Yang bisa mentrigger hanya yg mencolok receiver wireless/radio trigger pada lubang Sync.
Begitu juga jika ada cahaya keras luar yg meresap didalam sensor lampu studio kita, anda tetap dapat mentrigger dgn wireless/radio trigger.  Karena terminal trigger telah kita pasangkan sebagai receiver, yg kita picu dari trigger yg sudah kita pasangkan di hot shoe kamera. 

1 trigger ini bisa memicu semua receiver yg terpasang, dengan catatan, setting chanel telah kita seragamkan, dgn cara menset tombol angka yg sama pada masing-masing unit.

Jadi kelemahan pada trigger 1, 2 dan 3 pada pembahasan awal, dapat dipecahkan oleh wireless/radio trigger ini.

Pertanyaan baru muncul, Bagaimana jika lampu studio kita kebetulan tidak ada tombol on/off slave
.  Kita ingin "mengunci" lampu biar tidak disambar orang lain yg menggunakan flash ?

Pasang receiver di setiap lampu anda dan lihat Syncro Controller, dekat lampu hijau atau pada lampu hitam dgn logo "remote" atau lampu bulat merah sensor mata kucingnya (sudah diulas awal rtikel ini).  Tutup lampu sensor hitam itu pakai lakban/isolasi hitam, kita tutup rapat, supaya tidak terlihat/tersembunyi dari cahaya flash asing yg mendekat. 





Lanjutan Pertanyaan, Jika ingin mengunci dari orang yg menggunakan wireless/radio trigger yg kebetulan sama ?

Pindahkan formasi channel di receiver dan trigger anda, pada angka 1 or 2 (channel) yg beda dgn lawan anda. 



lampu terpicu dengan menggunakan frekwensi/gelombang radio saya istilahkan, atau sejenis itu.
sehingga dari jarak jauh bisa disamber sensor lampu studio, dilampu dipasang receiver, dikamera kita dipasang transmiter.  Transmiter & Receiver yg kita pasang ini terkoneksi satu dgn lainnya.

 

Terlihat area atas wilayah lampu studio nyala cahaya putih, dan kuning area ambience, saya trigger dari aula atas gedung wedding

4.  Wireless/Radio Trigger
Keunggulannya :
1. Area rentang luas
, dan kalau membelakangi lampu studio, sensor flash studio tetap tersentuh, pada terminal receiver yg sudah kita pasangkan.  Kita dapat mentrigger lampu studio tsb, flash studio tetap nyala.
2. Jika kita memakai pada semua lampu studio kita, hanya kita sendiri yg dapat menguasai lampu dalam hal memicu cahaya keluar.
3. Bentuk Simpel

Kelemahannya :
1. Idealnya memiliki sebanyak lampu kita, jika punya cuma 1, lampu yg tidak pakai akan kena sensor secara cahaya, siapa saja yg menyalakan flash mereka (bahkan kamera pocket dgn flashnya), lampu studio kita kena sambar....waduh pusing wkwkwkwkwk  



 5.  Wireless Trigger for Strobist (PT)
Kadang sebelum membeli studio kita sudah memakai flash yg off camera di lengkapi wireless triggernya seri PT 04.




Ada yg jenis singel hotshoe (Type PT)

 Receiver memiliki hotshoe flash kamera dan transmiter di kanan polos




Keunggulannya hampir sama dgn wireless triger point 4 :
tambahannya, dapat mengkombinasi flash kamera kita sebagai lampu berikut


Kelemahannya hampir sama dgn wireless triger point 4 :
tambahan lainnya, kadang tidak bisa dicampur dgn triger DC or AC, tidak conect, jadi semua lampu kita harus pasang PT 04 ini

 Ada yg jenis double hotshoe (Type PE 3 in 1)
 Receiver dan transmiter memiliki hotshoe flash kamera

 di transmiter saya pasang flash kamera untuk cahaya tengah


Keunggulannya hampir sama dgn wireless triger point 4 :
tambahannya, dapat mengkombinasi flash kamera kita sebagai lampu berikut
dan diatas transmiter kita bisa dipasang flash, baik untuk foto rombongan, kiri dan kanan disinari flash studio, tengahnya diterangi oleh flash kamera ini

Kelemahannya hampir sama dgn wireless triger point 4 :
tambahan lainnya, kadang tidak bisa dicampur dgn triger DC or AC, tidak conect, jadi semua lampu kita harus pasang PT 04 ini

Namun kunci semua ini adalah terdapatnya kabel sycro dibawah (sering tidak termasuk dalam pembelian triger PT 04) bisa dibeli Rp 50.000


Kabel Sycro yg salah satu menuju ke terminal sync di triger flash anda dan ujung lainnya untuk dihubungkan langsung ke lampu studio dengan perantara jack besar/kecil yang disesuaikan dengan ukuran jack input dari studio lightingnya.


Kesimpulan
1. Jadi Kembali kepada teori kebutuhan, jika lighthing fotografi sebagai subyek
Trigger Studio merupakan kebutuhan primer (pokok) bersama lampu studio.
Sering orang menganggap triger adalah prioritas kedua bahkan selanjutnya dalam membeli peralatan studio.
Sebaiknya, trigger merupakan prioritas utama bersanding dgn lampu studio itu sendiri.
Idealnya setiap lampu mempunyai wireless/radio trigger, dgn back up flash internal, eksternal dan IR trigger.
2. IR trigger dan wireless/radio trigger tidak memandang merk, sifatnya universal.  Bisa dipakai disemua lampu studio yg beredar dipasaran.  Jadi tidak rugi untuk dimiliki.
3.  Tombol-tombol indikator lampu diatas, hampir sama dgn semua merk lampu studio yg beredar umum didunia ini (jadi nggak masalah tread ini dipelajari oleh yg kebetulan punya lampu studio merk lain) feel free
4.  Untuk motret studio, kamera harus bisa menset speed, diagframa dll secara manual (kamera SLR, mirrorless maupun prosumer), dan memiliki hot shoe untuk dudukan flash/trigger, serta flash kameranya bisa diset manual juga

5.  Untuk pemakaian IR dan wireless trigger ini.  Khusus kamera merk Sony, olympus atau kamera mirrorless yg hot shoenya tidak universal (seperti Nikon dan Canon) jika memiliki hot shoe flash beda dgn yg umum (lihat posisi bottom), harus membeli hot shoe adapter terlebih dahulu, untuk membuat hotshoe sama dgn kamera umum (lihat posisi top) baru disini IR atau wireless trigger bisa dipasangkan.

ramadhan moon
by : nickodarwis


NB: 
Blog ini hasil migrasi dari multiply.com yg tutup operasi di awal 2013

baca juga daftar share di blog ini yg sudah di perbaiki, klik ini



Sumber: http://nickodarwis.blogspot.com/2010/08/share-alat-alat-yg-penting-untuk-men.html

Teknik Fotografi Blitz/Flash Light

Teknik Dasar Fotografi Digital : blitz/flash Light
blitz atau flash diterjemahkan secara bebas menjadi lampu kilat. Ini merupakan satu asesori yang sangat luas dipakai dalam dunia fotografi. Fungsi utamanya adalah untuk meng-illuminate (mencahayai/menerangi) obyek yang kekurangan cahaya agar terekspos dengan baik. Tetapi belakangan penggunaannya mulai meluas untuk menghasilkan foto-foto artistik. Artikel ini akan membahas dasar-dasar pengetahuan yang diperlukan untuk menggunakan flash dengan benar.
Menggunakan lampu kilat bukan hanya sekedar menyalakan flash, mengarahkan kamera kemudian klik dan jadilah satu foto yang terang, tetapi ada hal-hal yang perlu kita ketahui demi mendapat karya fotografi yang baik.

Blitz dan GN (Guide Number)
Untuk membagi/mengklasifikasikan blitz, ada beberapa klasifikasi yang dapat digunakan. Yang pertama, berdasarkan ketersediaan dalam kamera maka blitz dibagi menjadi built-in flash dan eksternal. flash built-in berasal dari kameranya sendiri sedangkan blitz eksternal adalah blitz tambahan yang disambung menggunakan kabel atau hot shoe ke kamera. Selain itu, kita juga dapat membaginya berdasarkan tipe/merk kamera.
Kita mengenal dedicated flash dan non-dedicated flash. Dedicated flash adalah flash yang dibuat khusus untuk menggunakan fitur-fitur tertentu dalam suatu kamera spesifik. Biasanya produsen kamera mengeluarkan blitz yang spesifik juga untuk jajaran kameranya dan dapat menggunakan fitur-fitur seperti TTL, slow sync atau rear sync, dll. Sedangkan blitz non-dedicated memiliki fungsi-fungsi umum saja dari kebanyakan kamera dan bisa digunakan terlepas dari tipe/merk kamera. flash jenis inilah yang biasanya membutuhkan banyak perhitungan karena flash yang sudah dedicated sudah mendapat informasi pencahayaan dari kamera sehingga tidak membutuhkan setting tambahan lagi.
Ada juga flash yang kekuatan outputnya (GN) bisa diatur dan ada juga yang tidak bisa (fixed GN). Kita akan cenderung lebih banyak membicarakan tentang flash yang non-dedicated, non-TTL, dan fixed GN.
Dalam fotografi menggunakan blitz, kita tidak akan lepas dari kalkulasi-kalkulasi yang berkaitan dengan intensitas cahaya yang terefleksi balik dari obyek yang kita cahayai. Karena itu, kita akan berjumpa dengan apa yang sering disebut GN (Guide Number) atau kekuatan flash. Secara singkat kita dapat katakan kalau flashnya berkekuatan besar, maka akan dapat mencahayai satu obyek dengan lebih terang dan bisa menjangkau obyek yang lebih jauh.
GN pada dasarnya merupakan perhitungan sederhana kekuatan flash. Kita mengenal 2 macam penulisan GN yaitu dengan menggunakan perhitungan satuan yang berbeda yaitu m (meter) dan feet (kaki). Lazimnya di Indonesia kita menggunakan hitungan dengan m. Ini merupakan salah satu pertimbangan juga karena untuk flash dengan kekuatan sama, angka GN m dan feet berbeda jauh. Selain itu, umumnya GN ditulis untuk pemakaian film dengan ISO/ASA 100 dan sudut lebar (35mm/24mm/20mm).
GN merupakan hasil kali antara jarak dengan bukaan (f/ stop atau aperture) pada kondisi tertentu (ISO/ASA 100/35mm/m atau ISO/ASA 100/35mm/feet). Sebagai contoh, jika kita ingin menggunakan flash untuk memotret seseorang yang berdiri pada jarak 5m dari kita menggunakan lensa 35mm dan kita ingin menggunakan f/2.8 maka kita memerlukan flash ber-GN 14. Penghitungan yang biasa digunakan biasanya justru mencari aperture tepat untuk blitz tertentu. Misalnya, dengan blitz GN 28 maka untuk memotret obyek berjarak 5m tersebut kita akan menggunakan f/5.6.
GN ini hanya merupakan suatu panduan bagi fotografer. Bukan harga mati. Yang mempengaruhinya ada beberapa. Salah satunya adalah ISO/ASA yang digunakan. Setiap peningkatan 1 stop pada ISO/ASA akan menyebabkan GN bertambah sebesar sqrt(2) atau sekitar 1,4 kali (atau jarak terjauh dikali 1.4) dan peningkatan 2 stop pada ISO/ASA akan menyebabkan GN bertambah 2 kali (atau jarak terjauh dikali 2).

Indoor flash
blitz sering bahkan hampir selalu digunakan di dalam ruangan. Alasannya karena di dalam ruangan biasanya penerangan lampu agak kurang terang untuk menghasilkan foto yang bisa dilihat. Memang, ada teknik menggunakan slow shutter speed untuk menangkap cahaya lebih banyak, tapi biasanya hal ini menyebabkan gambar yang agak blur karena goyangan tangan kameraman maupun gerakan dari orang yang ingin kita foto. Karena itu, biasanya kita menggunakan blitz.
Penggunaannya biasanya sederhana. Kita bisa setting kamera digital di auto dan membiarkannya melakukan tugasnya atau bisa juga kita melakukan setting sendiri menggunakan perhitungan yang sudah dilakukan di atas. Tidak sulit. Hanya saja, ada beberapa hal perlu kita perhatikan agar mendapatkan hasil maksimal.
1. Jangan memotret obyek yang terlalu dekat dengan blitz yang dihadapkan tegak lurus. Ambil contoh dengan blitz GN 20 yang menurut saya cukup memadai sebagai blitz eksternal bagi kamera digital dalam pemotretan indoor dalam ruangan (bukan aula). Jika kita ingin memotret sebutlah orang pada jarak 2 meter dengan ISO/ASA 200 maka kita membutuhkan f/16 yang tidak tersedia pada sebagian besar PDC dan akan menghasilkan gambar yang over. Karena itu, untuk PDC/DSLR biasanya sudah terdapat flash built-in yang TTL dan memiliki GN agak kecil (8-12 pada sebagian PDC, 12-14 pada DSLR). Gunakan itu daripada flash eksternal untuk obyek yang agak dekat.
2. Kombinasikan flash dengan slow shutter speed untuk mendapatkan obyek utama tercahayai dengan baik dan latar belakang yang memiliki sumber cahaya juga tertangkap dengan baik. Ini adalah suatu teknik yang patut dicoba dan seringkali menghasilkan gambar yang indah. Jangan takut menggunakan speed rendah karena obyek yang sudah dikenai flash akan terekam beku (freeze).
3. Bila ruangan agak gelap, waspadai terjadinya efek mata merah/red eye effect. Efek mata merah ini terjadi karena pupil mata yang membesar untuk membiasakan diri dengan cahaya yang agak gelap tetapi tiba-tiba dikejutkan cahaya yang sangat terang dari flash. Jika kamera dan/atau flash terdapat fasilitas pre-flash/red eye reduction, gunakan hal ini. Jika tidak, akali dengan mengubah sudut datangnya cahaya flash agar tidak langsung mengenai mata.
4. Dalam ruangan pun ada sumber cahaya yang kuat seperti spotlight. Hindari memotret dengan menghadap langsung ke sumber cahaya kuat tersebut kecuali ingin mendapatkan siluet yang tidak sempurna (kompensasi under 1 – 2 stop untuk siluet yang baik). Dalam kondisi demikian, gunakan flash untuk fill in/menerangi obyek yang ingin dipotret tersebut.

Bounce/Diffuse
flash adalah sumber cahaya yang sangat kuat. Selain itu, flash adalah cahaya yang bersumber dari sumber cahaya yang kecil (sempit). Karenanya, bila cahaya ini dihadapkan langsung pada suatu obyek akan menyebabkan penerangan yang kasar (harsh). Dalam sebagian besar foto dokumentasi konsumsi pribadi dimana petugas dokumentasi menggunakan kamera point & shoot (film/digital) ini bisa diterima. Tetapi dalam tingkat yang lebih tinggi dimana hasil foto ini akan menjadi konsumsi umum, alur keras cahaya akan memberi efek yang kurang sedap dipandang. Ditambah lagi biasanya ini akan menyebabkan cahaya flash memutihkan benda yang sudah agak putih dan menyebabkan detail-detail tertentu lenyap.
Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menghindari hal ini dalam artian melunakkan cahaya tersebut:
1. Memperluas bidang datang cahaya yaitu dengan memantulkannya ke bidang lain (bounce).
2. Menyebarkan cahaya yang datang dari sumber kecil tersebut sehingga meluas (diffuse).
Bounce flash dilakukan dengan cara memantulkan flash ke satu bidang yang luas sehingga cahaya datang dalam sudut yang lebih luas. Kita bisa menggunakan langit-langit atau dinding yang ada dalam ruangan. Jika flash eksternal yang terpasang pada kamera digital terhubung melalui hot shoe, maka flash tersebut harus memiliki fasilitas tilt untuk memantulkan cahayanya. Jika terpasang melalui kabel synchro, maka kita bisa memasang flash pada bracket dengan posisi sedikit menghadap ke atas/samping atau memegangnya dengan posisi demikian.


Posisi memantulkan yang tepat agar cahaya jatuh tepat pada obyek adalah dengan menghadapkan flash tersebut pada langit-langit di tengah fotografer/flash dan obyek.
Beberapa hal perlu kita perhatikan dalam memanfaatkan bounce flash ini adalah:
1. Jarak untuk menghitung f/stop berubah bukan menjadi jarak kamera dan obyek tetapi berubah menjadi jarak yang dilalui oleh cahaya flash tersebut. Normalnya pada sudut tilt 45° kita akan melebarkan aperture 1 stop dan pada sudut tilt 90° kita melebarkan aperture sebesar 2 stop. Tentunya ini hanya panduan ringkas. Pada pelaksanaan tergantung teknis di lapangan.
2. Berkaitan dengan no. 1 di atas, maka jarak langit-langit/dinding tidak boleh terlalu jauh atau akan jadi percuma.
3. Gunakan selalu bidang pantul berwarna putih dan tidak gelap. Warna selain putih akan menyebabkan foto terkontaminasi warna tersebut sedangkan warna gelap akan menyerap cahaya flash tersebut.
4. Perhatikan bisa terjadi kemunculan bayangan pada sisi lain cahaya. Misalnya jika kita memantulkan ke langit-langit maka kita akan mendapatkan bayangan di bawah hidung atau dagu dan jika kita memantulkan ke dinding di kiri maka akan ada bayangan di sebelah kanan. Untuk mengatasinya kita dapat menyelipkan sebuah bounce card di bagian depan flash tersebut sehingga ketika kita memantulkan cahaya ke atas/samping kita tetap memiliki cahaya yang tidak terlalu kuat yang mengarah ke depan dan menetralisir bayangan yang muncul.
Untuk mengambil foto secara vertical, akan mudah kalau kita menggunakan koneksi kabel karena kita dapat dengan mudah menghadapkan flash ke atas jika menggunakan bracket atau dipegang. Tetapi jika koneksi kita adalah hot shoe maka pastikan flash kita memiliki fasilitas swivel head sehingga dapat kita putar menghadap ke atas. Lebih bagus lagi jika kita memiliki flash yang dapat di-tilt dan swivel. Ini akan mengakomodasi sebagian besar kebutuhan kita.
Cara lain melunakkan cahaya adalah dengan memperluas dispersinya. Caranya gunakan flash diffuser. flash diffuser akan menyebarkan cahaya yang keluar dari flash ke segala arah sehingga cahaya yang keluar tidak keras. Umumnya tersedia diffuser khusus untuk flash tertentu mengingat head flash berbeda-beda. Dapat juga kita membuat sendiri diffuser untuk flash kita menggunakan bermacam-macam alat.
Ketika kita menggunakan diffuser, sebenarnya kita menghalangi area tertentu dari arah cahaya flash dan membelokkannya ke tempat lain. Ini mengurangi kekuatan flash yang kita gunakan tersebut. Jika diffuser yang kita gunakan adalah hasil beli, maka kita dapat membaca berapa kompensasi aperture yang kita perlukan ketika menghitung eksposur. Biasanya terdapat pada kotak atau kertas manual. Jika kita memutuskan membuat sendiri, maka kita bisa melakukan eksperimen berkali-kali agar mendapatkan angka yang pas untuk kompensasi yang diperlukan kali lainnya.

Outdoor flash
Sekilas jika kita berpikir tentang penggunaan flash, maka kita akan tahu kalau itu berlaku untuk suasana pemotretan yang kekurangan cahaya. Karenanya, kita umumnya tidak memikirkan tentang perlunya penggunaan flash pada pemotretan luar ruangan (siang hari, of course) karena sinar matahari sudah sangat terang. Di sinilah kesalahan kita dimulai. flash sangat dibutuhkan pada pemotretan outdoor, terutama pada:
  1. Kondisi obyek membelakangi matahari. Pada kondisi seperti ini, meter kamera akan mengira suasana sudah cukup terang sehingga akan menyebabkan obyek yang difoto tersebut gelap/under karena cahaya kuat tersebut percuma karena tidak direfleksikan oleh obyek. Cara mengakalinya adalah dengan melakukan fill in pada obyek sehingga walaupun latar sangat terang tetapi obyek tetap mendapat cahaya.
  2. Matahari berada di atas langit. Ini akan mengakibatkan muncul bayangan pada bawah hidung dan dagu. Gunakan flash untuk menghilangkannya. Untuk melembutkan cahayanya gunakan bounce card atau diffuser.
  3. Obyek berada pada open shade (bayangan). flash digunakan untuk mendapatkan pencahayaan yang sama pada keseluruhan obyek karena bayangan akan membuat gradasi gelap yang berbeda-beda pada bagian-bagian obyek apalagi wajah manusia.
  4. Langit sangat biru dan menggoda. Jika kita tidak tergoda oleh birunya langit dan rela mendapat foto langit putih ketika memotret outdoor maka silahkan lakukan metering pada obyek tanpa menggunakan flash atau dengan flash. Jika kita rela obyek kekurangan cahaya asalkan langit biru silahkan lakukan metering pada langit. Nah, jika kita ingin langit tetap biru sekaligus obyek tercahayai dengan baik, gunakan metering pada langit dan fill flash pada obyek. Ini akan menghasilkan perpaduan yang tepat dan pas.
  5. Langit mendung. Ketika langit mendung, jangan segan-segan gunakan flash karena efek yang ditimbulkan awan mendung akan sama seperti jika kita berada di bawah bayangan.
Ada beberapa teknik pengunaan lampu kilat yaitu bounce flash, diffuse flash, direct flash, off camera flash. :
Teknik bounce flash (pantul)
Tujuan mengunakan teknik ini adalah untuk memantulkan cahaya dari flash ke permukaan yang lebih besar seperti langit-langit atau dinding. Dengan memantulkan cahaya dari flash, maka cahaya ruangan yang ada menjadi lebih merata dan halus. Teknik ini baik digunakan di dalam ruangan dengan langit-langit yang tidak terlalu tinggi.
Teknik Diffuse Light (menyebarkan cahaya)
Tujuannya sama dengan bounce yaitu membuat cahaya lebih merata dan halus. Teknik ini bisa dicapai dengan mengunakan aksesori seperti Gari Fong lightsphere atau stofen omnibounce. Dengan salah satu aksesori ini, kita bisa menyebarkan cahaya ke seluruh arah. Teknik ini baik digunakan di dalam ruangan yang relatif kecil.
Teknik Direct Flash (langsung)
Cara mengunakan teknik ini adalah dengan mengarahkan flash langsung ke subjek. Biasanya hasil dari direct flash cukup kasar, maka dari itu sering dihindari. Tapi kalau kita tidak bisa melakukan teknik bounce atau diffuse karena keterbatasan lingkungan, maka teknik ini bisa dilakukan.
Teknik Off Camera Flash
Tujuan teknik ini adalah untuk menghasilkan cahaya yang tearah pada suatu subjek. Misalnya dalam potret manusia, mengunakan teknik ini dengan benar dapat menghasilkan foto objek seperti tiga dimensi. Untuk mengunakan teknik ini, diperlukan penghubung antara kamera dan lampu kilat. Alat penghubung antara lain seperti kabel sinkronisasi (cable sync flash), atau wireless trigger (alat pemantik nirkabel). Dengan adanya alat penghubung, kamera bisa mengatur satu lampu kilat ataupun beberapa lampu kilat yang disusun dalam beberapa kelompok. Ada beberapa kamera digital SLR tingkat menengah seperti Nikon D90 dan Olympus E-620 memiliki wireless trigger built-in sehingga tidak memerlukan alat penghubung tambahan. Tapi biasanya, fitur ini ada kelemahannya seperti jangkauan yang pendek dan tidak terlalu bisa diandalkan di setiap situasi.
Source – Web

Sumber: http://maribelajarfoto.wordpress.com/2012/11/15/teknik-fotografi-blitzflash-light/

MEMILIH LAMPU STUDIO

MEMILIH LAMPU STUDIO

BUDGET
Apakah budget kita leluasa, sedang atau terbatas.
Lampu studio tersedia dipasaran mulai dari yang harganya 600ribu rupiah perbuah hingga yang 15juta rupiah perbuah.
Atau untuk Studio Kit dengan basic set 2 lampu dengan tiang lampu dan standard softbox mulai dari paket Rp 6juta rupiah hingga yang 45juta rupiah.
Jaminan untuk anda adalah, semua merek apapun baik lampu yang murah atau pun yang mahal sekalipun, selama lampu studio tersebut menghasilkan intensitas cahaya 5000 hingga 5500 K (Kalvin satuan cahaya) boleh dikatakan sudah memadai jadi anda mau beli yang murah boleh dan beli yang mahal juga boleh tanpa was was kalau yang murah hasilnya tidak sebagus yang mahal.

LOKASI
Apakah kita hanya akan memotret di studio saja atau kita juga sering memotret outdoor entah untuk PreWedding atau Glamour dengan Mix light.
Umumnya pemotretan di Studio biasanya memakai lampu yang mempunyai ukuran Joule antara 1200 hingga 3200 joule flash energy (semacam satuan untuk mengukur cahaya) ada yang memakai satuan Flash power 1000 watt/second kalau atau ada yang untuk mudahnya kita pakai Guide Number atau sekian GN).
Sedang untuk pemotretan di Outdoor kalau sifatnya hanya untuk fiil in kita cukup dengan flash light dengan joule kecil antara 600 hingga 1000 joule saja sudah cukup.
Anda bisa lihat di spec dari lampu yang anda beli, setidaknya bisa tanya atau cari referensi atau lihat di website lampu tersebut.

Contoh spec lampu studio:
- Specifications –
Flash Power : 600Ws
F-stop : 78GN
Recycling time : 1.0 – 4.0s (my actual real world measurement)
Flash duration : 1/1000 – 1/2000s
Color temperature : 5200 – 5500°K
Modeling light : E27/250W
Modeling mode : proportion mode/full
Output precision ± 0.01EV
Charging indication buzz/modeling light

PORTABILITY
Misalnya jawaban pertanyaan anda diatas tentang lokasi adalah Outdoor.
Apakah dilokasi pemotretan outdoor itu cukup tersedia fasilitas listrik atau GenSet (pembangkit listrik protable) atau sama sekali tidak ada.
Kalau ternyata di lokasi tidak ada sumber listrik dan mobil anda bisa mencapai lokasi pemotretan atau setidaknya dekat dengan lokasi pemotretan tersebut anda tetap bisa mendapatkan tenaga listrik dari mobil anda.
Anda dapat gunakan inverter atau perubah arus dari DC(melalui lighter port pada dashboar mobil) dan mengeluarkan arus AC yang bisa digunakan untuk pemotretan. Inverter ini bermacam macam mulai dari yang outputnya 100 watt hingga 250watt dan ini cukup memadai untuk lampu studio flash.
Bila ternyata lokasi pemotretan ini jauh dari mobil anda atau ditengah tengah sawah atau pepohonan, anda dapat pertimbangkan menggunakan Portable Light yaitu lampu studio yang cukup dengan tenaga batere 12 volt dan portable.
Ada beberapa merek yang dapat anda pilih seperti Porta Light kalau tidak salah keluaran Bowen. lalu ada Mobilite dari Broncolor, Mobilite dari Visatec dan Mobilite dari Golden Eagle dan ada beberapa merek lain.
Harganya pun tergantung budget anda mulai dari yang persetnya Rp2.5 juta hingga yang Rp27juta.

ACCESSORIES
Lampu Studio membutuhkan beberapa asesorie agar bekerja maksimal, dengan mengetahui jenis apa pemotretan yang akan sering anda lakukan akan memudahkan anda menentukan asesories apa saja yang perlu dibeli.
Misalnya:
- Reflektor pada lampu studio, ada yang sudut pencahayaan yang dipancarkan (iluminasi rangenya 60 hingga 90 derajat, ada yang lebih lebar lagi hingga 120derajat atau lebih.
- Payung ada yang silver, gold dan transparant, ukuran diameter juga berbeda dan bahan juga berbeda dan pasti harga juga berbeda mulai dari harga 80ribu hinga harga 450ribu.
- Lalu pintu penutup lampu studio atau pelembut efek cahaya, apakah anda perlu Barn door, Snoot, Honey Comb, strip softbox, hard softbox.
- Filter lampu studio
- Dsb


 

Sumber: http://pakgede.wordpress.com/2008/04/27/memilih-lampu-studio/

Minggu, 07 September 2014

Asmaul Husna: Daftar, Tulisan, dan Arti Nya

Asmaul Husna: Daftar, Tulisan, dan Arti Nya


Asmaul Husna adalah nama-nama yang baik milik Allah SWT. Secara harfiyah, pengertian Asmaul Husna adalah "nama-nama yang baik". Asmaul Husna merujuk kepada nama-nama, gelar, sebutan, sekaligus sifat-sifat Allah SWT yang indah lagi baik.

Istilah Asmaul Husna juga dikemukakan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

"Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai asmaa'ul husna (nama-nama yang baik)" (Q.S. Thaha:8).

Umat Islam dianjurkan berdoa kepada Allah sambil menyebut Asmaul Husna. Misalnya, saat seorang Muslim memohon ampunan-Nya, maka ia berdoa mohon ampun sambil menyebut "Al-Ghoffaar" (Yang Maha Pengampun) dan seterusnya.

"Katakanlah (olehmu Muhammad): Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaa'ul husna (nama-nama yang terbaik)..." (Q.S Al-Israa': 110)

"Allah memiliki Asmaul Husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama yang baik itu..." (QS. Al-A'raaf : 180).
Jumlah Asmaul Husna adalah  99 nama, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Tirmidzi, diperkuat dengan hadits riwayat Bukhari.

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata Nabi Muhammad Saw bersabda: "Sesungguhnya Allah Swt mempunyai 99 nama, yaitu seratus kurang satu, barangsiapa menghitungnya (menghafal seluruhnya) masuklah ia kedalam surga" (HR. Bukhari).

Daftar dan Makna Asmaul Husna
Ke-99 Asmaul Husna atau Nama-Nama yang Baik itu adalah sebagai berikut:

No.NamaArabIndonesia

AllahاللهAllah
1Ar RahmanالرحمنYang Maha Pengasih
2Ar RahiimالرحيمYang Maha Penyayang
3Al MalikالملكYang Maha Merajai/Memerintah
4Al QuddusالقدوسYang Maha Suci
5As SalaamالسلامYang Maha Memberi Kesejahteraan
6Al Mu`minالمؤمنYang Maha Memberi Keamanan
7Al MuhaiminالمهيمنYang Maha Pemelihara
8Al `AziizالعزيزYang Maha Perkasa
9Al JabbarالجبارYang Memiliki Mutlak Kegagahan
10Al MutakabbirالمتكبرYang Maha Megah, Yang Memiliki Kebesaran
11Al KhaliqالخالقYang Maha Pencipta
12Al Baari`البارئYang Maha Melepaskan (Membuat, Membentuk, Menyeimbangkan)
13Al MushawwirالمصورYang Maha Membentuk Rupa (makhluk-Nya)
14Al GhaffaarالغفارYang Maha Pengampun
15Al QahhaarالقهارYang Maha Memaksa
16Al WahhaabالوهابYang Maha Pemberi Karunia
17Ar RazzaaqالرزاقYang Maha Pemberi Rezeki
18Al FattaahالفتاحYang Maha Pembuka Rahmat
19Al `AliimالعليمYang Maha Mengetahui (Memiliki Ilmu)
20Al QaabidhالقابضYang Maha Menyempitkan (makhluk-Nya)
21Al BaasithالباسطYang Maha Melapangkan (makhluk-Nya)
22Al KhaafidhالخافضYang Maha Merendahkan (makhluk-Nya)
23Ar Raafi`الرافعYang Maha Meninggikan (makhluk-Nya)
24Al Mu`izzالمعزYang Maha Memuliakan (makhluk-Nya)
25Al MudzilالمذلYang Maha Menghinakan (makhluk-Nya)
26Al Samii`السميعYang Maha Mendengar
27Al BashiirالبصيرYang Maha Melihat
28Al HakamالحكمYang Maha Menetapkan
29Al `AdlالعدلYang Maha Adil
30Al LathiifاللطيفYang Maha Lembut
31Al KhabiirالخبيرYang Maha Mengenal
32Al HaliimالحليمYang Maha Penyantun
33Al `AzhiimالعظيمYang Maha Agung
34Al GhafuurالغفورYang Maha Pengampun
35As SyakuurالشكورYang Maha Pembalas Budi (Menghargai)
36Al `AliyالعلىYang Maha Tinggi
37Al KabiirالكبيرYang Maha Besar
38Al HafizhالحفيظYang Maha Memelihara
39Al MuqiitالمقيتYang Maha Pemberi Kecukupan
40Al HasiibالحسيبYang Maha Membuat Perhitungan
41Al JaliilالجليلYang Maha Mulia
42Al KariimالكريمYang Maha Mulia
43Ar RaqiibالرقيبYang Maha Mengawasi
44Al MujiibالمجيبYang Maha Mengabulkan
45Al Waasi`الواسعYang Maha Luas
46Al HakiimالحكيمYang Maha Maka Bijaksana
47Al WaduudالودودYang Maha Mengasihi
48Al MajiidالمجيدYang Maha Mulia
49Al Baa`itsالباعثYang Maha Membangkitkan
50As SyahiidالشهيدYang Maha Menyaksikan
51Al HaqqالحقYang Maha Benar
52Al WakiilالوكيلYang Maha Memelihara
53Al QawiyyuالقوىYang Maha Kuat
54Al MatiinالمتينYang Maha Kokoh
55Al WaliyyالولىYang Maha Melindungi
56Al HamiidالحميدYang Maha Terpuji
57Al MuhshiiالمحصىYang Maha Mengkalkulasi
58Al Mubdi`المبدئYang Maha Memulai
59Al Mu`iidالمعيدYang Maha Mengembalikan Kehidupan
60Al MuhyiiالمحيىYang Maha Menghidupkan
61Al MumiituالمميتYang Maha Mematikan
62Al HayyuالحيYang Maha Hidup
63Al QayyuumالقيومYang Maha Mandiri
64Al WaajidالواجدYang Maha Penemu
65Al MaajidالماجدYang Maha Mulia
66Al WahiidالواحدYang Maha Tunggal
67Al AhadالاحدYang Maha Esa
68As ShamadالصمدYang Maha Dibutuhkan, Tempat Meminta
69Al QaadirالقادرYang Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan
70Al MuqtadirالمقتدرYang Maha Berkuasa
71Al MuqaddimالمقدمYang Maha Mendahulukan
72Al Mu`akkhirالمؤخرYang Maha Mengakhirkan
73Al AwwalالأولYang Maha Awal
74Al AakhirالأخرYang Maha Akhir
75Az ZhaahirالظاهرYang Maha Nyata
76Al BaathinالباطنYang Maha Ghaib
77Al WaaliالواليYang Maha Memerintah
78Al Muta`aaliiالمتعاليYang Maha Tinggi
79Al BarriالبرYang Maha Penderma
80At TawwaabالتوابYang Maha Penerima Tobat
81Al MuntaqimالمنتقمYang Maha Pemberi Balasan
82Al AfuwwالعفوYang Maha Pemaaf
83Ar Ra`uufالرؤوفYang Maha Pengasuh
84Malikul Mulkمالك الملكYang Maha Penguasa Kerajaan (Semesta)
85Dzul Jalaali Wal Ikraamذو الجلال و الإكرامYang Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan
86Al MuqsithالمقسطYang Maha Pemberi Keadilan
87Al Jamii`الجامعYang Maha Mengumpulkan
88Al GhaniyyالغنىYang Maha Kaya
89Al MughniiالمغنىYang Maha Pemberi Kekayaan
90Al MaaniالمانعYang Maha Mencegah
91Ad DhaarالضارYang Maha Penimpa Kemudharatan
92An Nafii`النافعYang Maha Memberi Manfaat
93An NuurالنورYang Maha Bercahaya (Menerangi, Memberi Cahaya)
94Al HaadiiالهادئYang Maha Pemberi Petunjuk
95Al BaadiiالبديعYang Indah Tidak Mempunyai Banding
96Al BaaqiiالباقيYang Maha Kekal
97Al WaaritsالوارثYang Maha Pewaris
98Ar RasyiidالرشيدYang Maha Pandai
99As ShabuurالصبورYang Maha Sabar

Ada kepercayaan di sebagian kalangan tentang keutamaan (fadhilah) satu per satu nama-nama tersebut. Itu hanya karangan, tidak ada dalilnya, bahkan cenderung menjadi hal bid'ah (mengada-ada). 

Umat Islam hanya diharuskan mengenali dan memahami sebagai bagian dari penguatan keimanan kepada Allah SWT, dan sering menyebutnya dalam doa. Wallahu a'lam.*

Sumber: http://www.risalahislam.com/2013/10/asmaul-husna-daftar-tulisan-dan-arti.html

Sabtu, 06 September 2014

Murattal Juz 30 (Juz ‘Amma) oleh Muhammad Taha Al-Junaid

Murattal Juz 30 (Juz ‘Amma) oleh Muhammad Taha Al-Junaid
Download Murattal Juz Amma... VBR MP3, Ogg Vorbis.


Rekaman bacaan Al-Qur’an Juz 30 (Juz ‘Amma) yang dibacakan dengan sangat indah dan begitu menyentuh oleh Qari Muhammad Thaha Al-Junaid hafizhahullah.
Beliau berasal dari Bahrain dan telah mengunjungi berbagai negara di dunia untuk mengimami shalat tarawih pada bulan Ramadhan. Rekaman ini diambil distudio saat beliau mengunjungi Masjid Green Lane di Brimingham, Inggris pada tahun 2011.

Rekaman ini disebarkan secara gratis dan berdasarkan ijin resmi dengan syarat tidak untuk tujuan komersil, dalam rangka menyambut bulan Ramadhan 1435 H. Semoga kita dapat meraih manfaat darinya.

Audio Files VBR MP3 Ogg Vorbis
Taawudz Basmalah 498.3 KB  147.3 KB 
Al-Fatihah 1.5 MB  451.6 KB 
An-Naba 8.8 MB  2.5 MB 
An-Naziat 7.8 MB  2.2 MB 
Abasa 6.5 MB  1.9 MB 
At-Takwir 4.8 MB  1.4 MB 
Al-Infitar 3.7 MB  1.1 MB 
Al-Tatfif 8.2 MB  2.4 MB 
Al-Insyiqaq 4.5 MB  1.3 MB 
Al-Buruj 5.3 MB  1.5 MB 
At-Tariq 2.6 MB  762.2 KB 
Al-Ala 2.9 MB  865.2 KB 
Al-Gasyiyah 3.6 MB  1.0 MB 
Al-Fajr 6.3 MB  1.9 MB 
Al-Balad 3.5 MB  1.0 MB 
Asy-Syams 2.6 MB  764.4 KB 
Al-Lail 3.5 MB  1.0 MB 
Ad-Duha 1.9 MB  578.3 KB 
Al-Insyirah 1.3 MB  391.5 KB 
At-Tin 1.9 MB  584.8 KB 
Al-Alaq 3.1 MB  927.4 KB 
Al-Qadr 1.4 MB  408.9 KB 
Al-Bayyinah 4.0 MB  1.2 MB 
Az-Zalzalah 1.7 MB  500.5 KB 
Al-Adiyat 2.1 MB  621.6 KB 
Al-Qariah 1.8 MB  539.0 KB 
At-Takasur 1.6 MB  484.7 KB 
Al-Asr 842.0 KB  248.1 KB 
Al-Humazah 1.6 MB  475.5 KB 
Al-Fil 1.2 MB  373.3 KB 
Quraisy 1.0 MB  304.8 KB 
Al-Maun 1.5 MB  444.0 KB 
Al-Kausar 648.5 KB  193.5 KB 
Al-Kafirun 1.4 MB  431.1 KB 
An-Nasr 954.6 KB  283.5 KB 
Al-Lahab 1.1 MB  325.6 KB 
Al-Ikhlas 615.0 KB  181.9 KB 
Al-Falaq 969.3 KB  283.5 KB 
An-Nas 1.3 MB  379.8 KB 
Closing Track 522.8 KB  148.5 KB 
Opening Track 522.8 KB  178.9 KB 

Download sekaligus dalam file .ZIP : Disini

Sumber dari: http://abangdani.wordpress.com/2014/07/04/rilis-resmi-murattal-juz-30-juz-amma-oleh-muhammad-taha-al-junaid-dewasa/