Rabu, 17 Februari 2021

Rangkaian Konverter Buck Boost : Prinsip Kerja dan Aplikasinya

 Rangkaian Konverter Buck Boost : Prinsip Kerja dan Aplikasinya

Buck boost converter adalah konverter DC ke DC. Tegangan output konverter DC ke DC kurang dari atau lebih besar dari tegangan input. Tegangan output besarnya tergantung pada siklus kerja. Konverter ini juga dikenal sebagai transformator step up dan trafo step down dan nama-nama ini berasal dari analog trafo step up dan trafo step down.

Tegangan input naik / turun ke tingkat lebih dari atau kurang dari tegangan input. Dengan menggunakan energi konversi rendah, daya input sama dengan daya output. Ekspresi berikut menunjukkan rendahnya konversi.

Daya input (Pin) = Daya output (Pout)

Untuk mode step up, tegangan input kurang dari tegangan output (Vin <Vout). Ini menunjukkan bahwa arus output kurang dari arus input. Karenanya buck boost converter adalah mode step up.

Vin <Vout dan Iin> Iout

Dalam mode step down, tegangan input lebih besar dari tegangan output (Vin> Vout). Oleh karena itu, arus output lebih besar dari arus input. Karenanya buck boost converter adalah mode step down.
Vin> Vout dan Iin <Iout


Apa itu Buck Boost Converter?

Buck boost converter adalah jenis konverter DC ke DC dan memiliki tegangan output yang besar. Mungkin lebih atau kurang dari sama dengan besarnya tegangan input. Buck boost converter adalah sama dengan rangkaian fly back dan induktor tunggal digunakan sebagai pengganti transformator.

Ada dua jenis konverter di buck boost converter yaitu buck converter dan yang lainnya adalah boost converter. Konverter ini dapat menghasilkan kisaran tegangan output dari tegangan input. Diagram berikut menunjukkan buck boost converter dasar.

Rangkaian Konverter Buck Boost - Prinsip Kerja dan Aplikasi


Prinsip Kerja Buck Boost Converter

Prinsip kerja konverter DC ke DC adalah induktor dalam resistansi input memiliki variasi tak terduga dalam arus input. Jika sakelar ON maka induktor memberi makan energi dari input dan menyimpan energi energi magnetik. Jika sakelar ditutup, ia mengeluarkan energi.

Rangkaian output kapasitor diasumsikan cukup tinggi daripada konstanta waktu rangkaian RC tinggi pada tahap output. Konstanta waktu yang sangat besar dibandingkan dengan periode switching dan pastikan bahwa kondisi stabil adalah tegangan output konstan Vo (t) = Vo (konstan) dan ada di terminal beban.

Ada dua jenis prinsip kerja buck boost converter yaitu.
  • Buck Converter.
  • Boost Converter


Prinsip Kerja Buck Converter

Diagram berikut menunjukkan operasi kerja buck converter. Dalam buck converter, transistor pertama dihidupkan dan transistor kedua dimatikan karena frekuensi gelombang persegi yang tinggi. Jika terminal gerbang transistor pertama lebih dari arus yang melewati medan magnet, pengisian kapasitor, dan itu memasok beban. D1 adalah dioda Schottky dan dimatikan karena tegangan positif ke katoda.

Rangkaian Konverter Buck Boost - Prinsip Kerja dan Aplikasi

Induktor L adalah sumber awal arus. Jika transistor pertama OFF dengan menggunakan unit kontrol maka arus mengalir dalam operasi buck. Medan magnet induktor runtuh dan ggl balik dihasilkan medan kolaps berbalik polaritas tegangan di induktor. Arus mengalir di dioda D2, beban dan dioda D1 akan dihidupkan.

Pelepasan induktor L berkurang dengan bantuan arus. Selama transistor pertama dalam satu keadaan muatan akumulator di kapasitor. Arus mengalir melalui beban dan selama periode off menjaga Vout secara wajar. Karenanya ia menjaga amplitudo riak minimum dan Vout mendekati nilai Vs


Prinsip Kerja Boost Converter

Dalam konverter ini, Transistor pertama dinyalakan terus-menerus dan untuk transistor kedua gelombang persegi frekuensi tinggi diterapkan ke terminal gerbang. Transistor kedua dalam melakukan ketika keadaan dan arus input mengalir dari induktor L melalui transistor kedua.

Terminal negatif mengisi medan magnet di sekitar induktor. Dioda D2 tidak dapat melakukan karena anoda berada di ground potensial dengan melakukan transistor kedua.

Rangkaian Konverter Buck Boost - Prinsip Kerja dan Aplikasi

Dengan mengisi Kapasitor C, beban diterapkan ke seluruh rangkaian dalam status ON dan dapat membangun siklus Osilator sebelumnya. Selama periode ON, kapasitor C dapat mengeluarkan secara teratur dan jumlah frekuensi riak tinggi pada tegangan output. Perbedaan potensial perkiraan diberikan oleh persamaan di bawah ini.

VS + VL

Selama periode OFF dari transistor kedua induktor L terisi daya dan kapasitor C habis. Induktor L dapat menghasilkan ggl balik dan nilainya tergantung pada tingkat perubahan arus dari sakelar transistor kedua.

Jumlah induktansi coil dapat menempati. Karenanya ggl balik dapat menghasilkan tegangan yang berbeda melalui rentang yang luas dan ditentukan oleh desain rangkaian. Karenanya polaritas tegangan pada induktor L telah terbalik sekarang.

Tegangan input memberikan tegangan output dan minimal sama dengan atau lebih tinggi dari tegangan input. Dioda D2 dalam bias maju dan arus diterapkan pada arus beban dan mengisi ulang kapasitor ke VS + VL dan siap untuk transistor kedua.


Mode Buck Boost Converter

Ada dua jenis mode dalam buck boost converter. Berikut ini adalah dua jenis konverter buck boost yang berbeda.
  • Mode konduksi berkelanjutan (continous)
  • Mode konduksi terputus (discontinous)


Mode Konduksi Berkelanjutan (continous)

Dalam mode konduksi kontinu, arus dari ujung ke ujung induktor tidak pernah mencapai nol. Karenanya induktor melepaskan sebagian lebih awal dari siklus switching.


Mode Konduksi Terputus (discontinous)

Dalam mode ini arus yang melalui induktor pergi ke nol. Karenanya induktor akan benar-benar melepaskan pada akhir siklus switching.


Aplikasi Buck Boost Converter

  • Digunakan dalam catu daya yang mengatur sendiri.
  • Digunakan pada berbagai alat elektronik konsumen.
  • Digunakan dalam sistem daya baterai.
  • Aplikasi kontrol adaptif.
  • Aplikasi penguat daya.


Kelebihan dari Buck Boost Converter

  • Ini memberikan tegangan output yang lebih tinggi.
  • Siklus saluran operasi rendah.
  • Tegangan rendah pada MOSFET
Demikian Rangkaian Konverter Buck Boost : Prinsip Kerja dan Aplikasinya. 
Informasi yang diberikan adalah konsep dasar buck boost converter.

Terimakasih

Sumber :  https://abdulelektro.blogspot.com/2019/11/rangkaian-konverter-buck-boost-prinsip.html

Senin, 15 Februari 2021

Arsitektur Komputer

 Bagian 1

Arsitektur Komputer : Pengertian, Fungsi, Jenis, Klasifikasi, Bagian-bagian, Cara Membuat & Faktor Yang Mempengaruhi-nya.

Pengertian Arsitektur Komputer

Arsitektur Komputer adalah sebuah konsep perencanaan dan struktur pengoperasian dasar dari suatu sistem komputer. Dengan pengertian lain Arsitektur Komputer yaitu suatu ilmu dan seni tentang tata cara interkoneksi diantara berbagai jenis komponen perangkat keras atau hardware supaya dapat melahirkan suatu komputer melengkapi keperluan fungsional, kinerja dan juga target keuangannya.

Dalam hal bidang teknik komputer, arsitektur komputer memiliki arti suatu ilmu yang bertujuan untuk merancang sebuah sistem komputer. Arsitektur von Neumann atau mesin von Neumann adalah arsitektur yang dibuat oleh John Von Neumann “1903-1957”, hampir semua komputer saat ini memakai arsitektur von Neumann.

Di arsitektur ini digambarkan bahwa komputer dengna empat bagian utama yaitu: unit artimatika dan logis (ALu), Unit kontrol, memori, alat masukan dan hasil” yang disebut dengan I/O, selanjutnya bagian-bagian tersebut terhubung oleh rangkaian kawat “bus”

Sub-Kategori Arsitektur Komputer

Ada beberapa sub-kategori dalam arsitektur komputer, diantaranya yaitu:

  • Set intruksi “ISA”
  • Arsitektur mikro dari ISA
  • Sistem desain dari semua komponen dalam perangkat keras “hardware” komputer ini.

Arsitektur Komputer Adalah Desain Komputer

Adapun arsitektur komputer adalah desain komputer yang mencakup:

  • Set intruksi
  • Komponen perangkat keras atau hardware
  • Susunan sistem

Jenis-Jenis Arsitektur Komputer

Adapun jenis-jenis arsitektur komputer adalah:

  1. Komputer SISD
  2. Komputer SIMD
  3. Komputer MISD
  4. Komputer MIMD

Klasifikasi Arsitektur Komputer

Mesin Von Neumann

Kriteria Mesin Von Neumann
1.Memiliki subsistem hardware dasar yakni sebuah CPU, sebuah memori dan juga sebuah I/O sistem
2.Adalah stored-program computer
3.Mengoperasikan instruksi dengan cara berurutan
4.Memiliki jalur (path) bus antara memori dan CPU

Menurut Flyyn di tahun 1966, mengklasifikasikan arsitektur komputer dari sifatnya adalah:

  1. Jumlah prosesor
  2. Jumlah program yang bisa dioperasikan
  3. Struktru memori

Terdapat beberapa faktor yang menjadi pengaruh keberhasilan arsitektur komputer, antara lain:

  • Manfaat Arsitektural
  • Kinerja sistem
  • Biaya sistem

Terdapat empat ukuran pokok yang menjadi penentu keberhasilan arsitektur, yakni manfaat arsitekturalnya yakni:

  • Aplicability
  • Maleability
  • Expandibility
  • Comptible

Bagian Pokok Arsitektur Komputer

Ada dua bagian pokok pada arsitektur komputer, yakni:

  • Instructure Set Arhitecture adalah spesifikasi yang menjadi penentu bagaimana programmer bahasa mesin berinteraksi terhadap komputer
  • Hardware System Architecture adalah subsistem perangkat keras dasar yaitu: CPU, memori dan OS.

Cara-Cara Membuat Transformasi Di Arsitektur Komputer

Ada beberapa cara membuat transformasi di arsitektur yakni:

  • Merancang array prosesor
  • Mengaplikasikan proses pipelining
  • Membuat komputer dengan multiprosesor
  • Membuat komputer dengan arsitektur yang lain

Atribut yang dipakai untuk mengukur kualitas dari Arsitektur Komputer
Terdapat atribut yang dipakai untuk mengukur kualitas dari arsitektur komputer adalah:

  • Generalitas
  • Applicability atau daya serap
  • Efisiensi
  • Mudahnya dalam pemakaian
  • Maleability atau daya tempa
  • Expandibility atau daya kembang

Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Arsitektur Komputer

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan arsitektur komputer, antara lain:
Manfaat Arsitektur

  • Aplicability
  • Meability
  • Expandibility
  • Compatible

Kinerja Sistem
Yang dimaksud suatu pengukur kinerja sistem adanya serangkaian program standar yang dijalankan dan juga bisa disebut dengan Benchmark di komputer yang akan di uji ukuran kinerja CPU.

  • Million Instruction PerSecond (MIPS)
  • Million Floating Point PerSecond (MFLOP)
  • VAX Unit of Performance (VUP)

Ukuran Kinerja I/O Sistem:

  • Sistem operasi bandwith
  • Operasi I/O perdetik

Ukuran Kinerja Memori:

  • Memori Bandwith
  • Waktu Akses Memori
  • Ukuran Memori

Biaya Sistem

Terdapat biaya sistem yaitu biaya yang dapat diukur dalam banyak cara, yakni:

  • Reabilitas
  • Mudah diperbaiki
  • Penggunaan daya
  • Berat
  • Kekebalan
  • Interface sistem software

Demikianlah penjelasan tentang 

Arsitektur Komputer : Pengertian, Fungsi, Jenis, Klasifikasi, Bagian-bagian, Cara Membuat & Faktor Yang Mempengaruhi-nya.


Sumber: https://www.seputarpengetahuan.co.id/2017/11/pengertian-arsitektur-komputer-fungsi-jenis-klasifikasi-bagian-cara-membuat-faktor-yang-mempengaruhi.html 

================

 Bagian 2

Arsitektur komputer

Arsitektur komputer ini sama dengan organisasi komputer, mempelajari komponen-komponen di dalam komputer yang secara sederhana terbagi menjadi hardware maupun software. 

Berikut diagram arsitektur komputer secara hardware:



Jadi bagian-bagian di dalam komputer (apa saja) dapat di kelompokkan menjadi 2 bagian, yaitu: Hardware dan Software. Hardware adalah komponen perangkat keras yang ada di dalam komputer tersebut dan terbagi menjadi 5 macam, yaitu:

  1. Bagian Input
  2. Bagian Proses
  3. Bagian Output
  4. Bagian Penyimpanan / Storage
  5. Bagian Media Pengiriman / Transmission media

Secara sederhana, dapat digambarkan sebagai berikut :


Dari diagram diatas nampak alur data dari tiap bagian. 

Bagian Input
komponen-komponen komputer yang berfungsi untuk memasukkan (input) data. Komponen input ini bermacam-macam, contohnya : mouse, keyboard, microphone, joystick dll.

Bagian Proses
Bagian proses ini dikenal juga dengan nama CPU (Central Processing Unit) merupakan bagian dari komputer yang memproses atau mengolah data menjadi informasi. Pada diagram diatas nampak bahwa bagian CPU terdiri dari 3 bagian, yaitu:
  1. Unit pengendali (Control Unit)
  2. Unit penyimpanan primer (Primary Storage)
  3. Arithmetic Logic Unit
 * Control Unit
Tugas utama control unit adalah mengatur pemindahan (transfer) data ke CPU dan dari CPU. CU juga mengirimkan perintah untuk memindah data dari unit penyimpanan primer ke printer atau alat output lainnya. Jadi CU mengirim perintah ke semua komponen di dalam sistem, mengatur alur data di dalam sistem komputer.

* Arithmetic Logic Unit
Jika sebuah perintah melibatkan operasi aritmatika, atau membutuhkan pengujian nilai data, maka CU akan mengirimkan ke ALU (Arithmetic Logic Unit) yang merupakan bagian terpenting dalam CPU yang menangani operasi aritmatika dan logika, yang meliputi perbandingan dan operasi data lainnya. ALU memiliki media penyimpan internal yang digunakan untuk pengolahan data dan bersifat sementara yang disebut register.

 * Primary Storage
Unit penyimpanan primer ini, seringkali dibagi menjadi dua macam, yaitu RAM (Random Access Memory) dan ROM (Read Only Memory). RAM digunakan untuk menyimpan data dan program yang sedang digunakan atau diolah oleh pengguna komputer. ROM berisi program yang dibuat oleh pembuat sistem komputer tersebut, yang digunakan untuk :
  • membaca sistem operasi komputer
  • memeriksa peralatan yang ada di dalam unit sistem
  • menampilkan pesan dilayar monitor
Program demikian dikenal dengan istilah BIOS (Basic Input Output System). BIOS merupakan bagian yang penting dalam sistem. Pada saat komputer dihidupkan pertama kali, kondisi RAM masih kosong, sistem akan menjalankan perintah yang ada pada program BIOS yang kemudian akan menjalankan sistem operasi dan meletakannya pada RAM. Klik disini untuk pembahasan RAM yang lebih detail.

Bagian Output
Komponen-komponen yang digunakan untuk menampilkan hasil, contoh: monitor, printer, speaker.
Perkembangan teknologi saat ini memungkinkan perangkat output menjadi satu dengan perangkat input, contoh pada komputer tablet layar sentuh. Input dan output menjadi satu pada bagian layar sentuh (touch screen)

Bagian Penyimpanan / Storage
Komponen yang digunakan sebagai secondary storage, yaitu jenis penyimpan yang tidak akan hilang atau terhapus jika komputer dipadamkan. Ada beberapa macam jenis penyimpan, yaitu:
  • Media penyimpan magnetik
  • Media penyimpan optik
  • Media penyimpan solid-state
Bagian Media Pengiriman / Transmission Media
Komponen yang digunakan untuk mengirimkan data dari satu / sekelompok komputer ke komputer / kelompok komputer yang lain, contoh : Hub, Repeater, Bridge, dll.

Tingkat dasar arsitektur komputer ini kemudian dikembangkan dengan memandang sistem komputer keseluruhan sebagai multilayered machine, yang terdiri dari beberapa layer software dan hardware seperti diagram berikut:


Sumber Pustaka :
  1. Wikipedia 
  2. muhamadsyani.wordpress.com
  3. Webopedia
  4. sramadhan13.wordpress.com 
  5. Longman ICT for IGCSE, Roger Crawford, Roland Birbal dan Joseph Blair
  6. sipitoon.wordpress.com
  7. aamilham.wordpress.com
  8. academia.edu (pembahasan detail mengenai fungsi dan jenis ROM)
  9. Cambridge IGCSE ICT Coursebook, Chris Leadbetter dan Stewart Wainwright
  10. Wikipedia / register
  11. http://cyberclass4teacher.blogspot.com/2014/07/arsitektur-komputer.html 

Selasa, 02 Februari 2021

Resistor : Pengertian, Fungsi, Jenis, Cara Menghitung dan Cara Merangkaikannya

 Pengertian Resistor

Pengertian Resistor

Resistor atau hambatan yaitu salah satu komponen elektronika yang punya nilai hambatan tertentu, dimana hambatan ini akan menghambat arus listrik yang mengalir melaluinya.

Sebuah resistor biasanya terbuat dari bahan campuran Carbon.

Tapi, gak sedikit juga resistor yang terbuat dari kawat nikrom, sebuah kawat yang punya resistansi yang cukup tinggi dan tahan pada arus kuat.

Contohnya, penggunaan kawat nikrom bisa dilihat pada elemen pemanas setrika. Kalo elemen pemanas tersebut dibuka, maka ada seutas kawat spiral yang biasa disebut dengan kawat nikrom.

Satuan Resistor yaiti Ohm (Ω) yang merupakan satuan SI buat Resistansi listrik.


 

Fungsi Resistor

Fungsi Resistor

Ada beberapa fungsi dari Resistor yang harus kamu ketahui, yaitu:

  • Fungsi resistor yaitu buat membatasi arus listrik yang mengalir.
  • Fungsi resistor buat aplikasi DC yang membutuhkan keakuratan yang sangat tinggi. Contoh, aplikasi penggunaan resistor ini yaitu DC Measuring equipment, dan reference gulators buat voltage regulator dan decoding Network.
  • Fungsi resistor sebagai standart didalam verifikasi keakuratan dari suatu alat ukur resistive.
  • Fungsi resistor buat pengatur tegangan output pada power supplay.
  • Fungsi resistor buat aplikasi power, karena membutuhkan frekuensi respon yang baik, daya yang tinggi dan nilai yang lebih besar dari pada power wirewound resistor.
  • Fungsi resistor pembagi tegangan.

 

Karakteristik Resistor

Karakteristik Resistor

Ada beberapa karakteristik utama pada sebuah resistor, yaitu sebagai berikut:

  • Resistanti terhadap daya listrik yang dapat boros
  • Koefisien suhu, desah listrik, dan induktansi.
  • Resistor bersifat resistif.
  • Terbuat dari bahan karbon.

 

Jenis – Jenis Resistor

Jenis - Jenis Resistor

Resistor pada saat ini terbagi menjadi 2 macam, yaitu resistor tetap (fixed resistor) dan resistor tidak tetap (variable resistor), yaitu:

 

1. Resistor Tetap (Fixed Resistor)

Resistor jenis ini punya nilai resistansi yang tetap dan permanen selama resistor tersebut dalam kondisi yang baik.

Resistor juga tetap punya ciri – ciri yang gak bisa berubah ubah kalo resistor tersebut gak rusak.

Resistor juga tetap terdiri dari beberapa jenis resistor yang dikelompokan berdasarkan bahan penyusun resistor tersebut.

Berikut, dibawah ini ada beberapa jenis resistor tetap (fixed resistor), diantaranya sebagai berikut:

 

a. Resistor Kawat

Resistor Kawat

Resistor ini adalah resistor pertama kali dibuat loh, tahu gak kamu nih.

Dulu, resistor ini dipakai dalam rangkaian yang masih memakai tabung hampa sebagai transistornya.

Dengan ukuran fisik yang cukup besar, dan juga bentuknya yang bervariasi pada masanya, resistor ini juga punya nilai hambatan yang cukup besar pula

Resistor Kawat juga bisa beroperasi pada arus kuat dan panas yang tinggi, jadi banyak ditemukan pada rangkaian elektronika bagian power.

Rating daya yang ada pada resistor kawat yang satu ini yaitu dibagi dalam beberapa ukuran, seperti 1 watt, 2 watt, 5 watt, dan 10 watt.

 

b. Resistor Batang Karbon

Resistor Batang Karbon

Resistor jenis batang karbon terhitung jenis resistor dulu yang sama seperti resistor kawat.

Resistor ini tersusun dari bahan karbon didalamnya dan ada kode – kode warna buat menandai besarnya hambatan dari resistor tersebut.

Resistor yang merupakan generasi awal ini, dalam penggunaanya saat ini udah sangat jarang sekali. jadi, kurang familiar buat para praktisi elektronika saat ini.

 

c. Resistor Keramik

Resistor Keramik

Sesuai dengan namanya, resistor ini tentu aja terbuat dari bahan keramik atau porselen, dengan lapisan kaca dibagian terluar.

Meskipun ukuranya cukup kecil, tapi resistansinya bervariasi, mulai dari kisaran puluhan ohm sampai kilo ohm, loh!

Dalam kemajuan Teknologi terutama pada bahan yang dibutuhkan sebagai komponen elektronika, resistor keramik ini kebanyakan dipakai pada gadget yang punya ukuran cukup kecil.

Coba aja buka perangkat ponsel yang kamu punya, pasti didalamnya akan menemukan resistor jenis ini. Resistor ini punya daya sebesar 1/4 watt, 1/2 watt, 1 watt, dan 2 watt.

 

d. Resistor Film Karbon

Resistor Film Karbon

Resistor film karbon yaitu sebuah perkembangan dari resistor batang karbon yang sebelumnya udah dijelaskan.

Resistor ini terbuat dari bahan karbon didalamnya dan diluarnya dilapisi dengan bahan pelindung berupa film. Pelindung ini berguna buat mencegah adanya pengaruh eksternal terhadap karakteristik dari resistor jenis ini.

Diluar atasnya ada gelang – gelag warna yang berguna sebagai indikator besarnya hambatan yang terkandung didalam resistor tersebut.

Mempunyai Rating daya sama dengan resistor keramik, tapi kalah dalam segi keefektifan ukuran komponen.

Jadi, lebih banyak resistor kramik yang dipakai buat peralatan elektronik, seperti Smartphone dari pada pakai Resistor Film Karbon yang ukurannya relatif lebih besar.

 

e. Resistor Film Metal

Resistor Film Metal

Bentuk fisiknya terlihat kalo resistor jenis film metal mirip seperti resistor jenis film karbon. Bedanya cuma pada warna dasarnya.

Tapi, sebenarnya kedua jenis resistor ini punya karakteristik yang beda. Buat resistor film metal punya katelitian tertinggi dibanding dengan resistor tetap jenis lain. Toleransinya, cuma berkisar antara 1 – 5%.

Resistor Film Metal punya resistensi yang lebih besar dibanding dengan Resistor Film Karbon.

Kalo pada Resistor Film Karbon cuma identik dengan 4 kode warna buat membacanya, tapi Resistor Film Metal ad 5 dan juga 6 kode warna.

Dalam aplikasinya, resistor film metal biasa dipakai pada perangkat elektronik yang memerlukan ketelitian tinggi, contohnya multimeter atau alat ukur lainnya.

 

2. Resistor Tidak Tetap (Variable Resistor)

Berlawanan dengan resistor tetap, resistor variabel ini bisa berubah nilai resistansinya sesuai pengaruh eksternal yang emang udah didesain demikian.

Pengin tau lebih jelasnya? Mari skuy simak!

 

a. Potensiometer

Potensiometer

Resistor gak tetap yang satu ini yaitu resistor yang bisa kamu atur besar resistansinya. Cara mengaturnya, cukup dengan memutar bagian tuas tengah potensiometer.

Resistor ini sering banget dipakai dalam rangkaian elektronika seperti rangkaian sensor cahaya, fm/am tuner, dan lain sebagainya.

Bagian dalam Potensiometer terbuat dari kawat berhambatan yang melingkar.

Tapi selain terbuat dari bahan kawat, ada juga potensiometer yang tersusun dari karbon, jadi ukurannya bisa diperkecil dan interval resistansi yang cukup besar.

Ada 2 jenis potensiometer yang bisa kamu temukan di toko – toko elektronik, yaitu:

  • Potensiometer jenis logaritmik
  • Potensiometer jenis linear.

 

b. LDR (Light Dependent Resistor)

LDR (Light Dependent Resistor)

Resistor ini yaitu jenis resistor variabel yang resistansinya bisa berubah seiring dengan intensitas cahaya yang mengenai permukaanya.

Dengan sifatnya ini, maka wajar kalo LDR biasa dipakai di lampu – lampu yang bisa mati dan hidup secara otomatis.

Contohnya, pada lampu – lampu jalan yang akan nyala pada malam hari atau pada saat wilayah sekitar gelap.

Resistansi LDR menurun saat terpapar cahaya dengan intensitas tinggi. Sebaliknya, semakin kecil intensitas cahaya yang mengenai permukaanya maka resistansi LDR akan semakin besar.

 

c. Trimpot

Trimpot

Bentuk dan cara kerja Resistor ini sebenarnya gak jauh berbeda dengan Resistor Potensiometer.

Tapi, supaya kamu bisa merubah nilai hambatanya gak cukup cuma memutar pakai tangan kosong ataupun menggesernya aja loh.

Diperlukan alat semacam obeng -/+ buat memutarnya, jadi nilai resistansinya berubah sesuai dengan yang kamu inginkan.

Resistor Trimpot ini sama seperti Resistor Potensiometer juga terdiri atas 2 jenis, yaitu trimpot logaritmik dan linear.

Resistor Trimpot ini juga mempunyai ciri khusus yang bentuk ukurannya lebih kecil dari Resistor Potensiometer.

 

d. Rheostat

Rheostat

Resistor Rheostat ini terbuat dari uliran kawat yang rapat dan berdiameter cukup besar,jadi ukuranya juga besar.

Resistor Rheostat ini sering sekali dipakai dalam laboratorium. Cara mengubah resistansinya cukup mudah, yaitu dengan menggeser kepala bagian atas dari rheostat.

 

e. NTC dan PTC

NTC dan PTC

Buat mengatur besar resistansinya kedua resistor ini dengan merubah temperature lingkungan sekitar.

Pada resistor NTC (negative temperature coefficient) resisntansi semakin kecil saat suhu lingkungan naik.

Nah, kalo buat PTC (positive temperature coefficient) berlaku sebaliknya, yaitu semakin tinggi suhu lingkungan semakin besar JUGa nilai resistansinya.


 

Warna Resistor

Warna Resistor

Kode warna resistor, nilai resistor atau tahanan biasanya bisa dilihat dari kode warna pada resistor tersebut.

Warna tersebut biasanya berupa gelang atau pita. Ada resistor yang punya 4 Pita warna, ada yang 5 pita warna dan ada yang 6 pita warna.

Nilai tahanan resistor ini biasanya dengan satuan Ohm. Berdasarkan kemampuan daya nya, resistor memiliki jenis 1/4 watt, 1/2 watt, 1 watt, 2 watt, makin besar nilai watt nya makin besar ukuran resistor nya.

Warna – warna pada resistor udah jadi standar internasional, atau sering kamu dengar dengan istilah standart EIA ( Electronic Industries Alliance ). Jadi, di Negara manapun, nilai resistor sama, gak beda.

Coba lihat daftar kode warna di bawah ini:

KodeKode WarnaNilai
HHitam0
CoCoklat1
MeMerah2
OOrange3
KuKuning4
HiHijau5
RuBiru6
ViViolet/Ungu7
AAbu Abu8
TihPutih9
Emas
Perak
Tak Berwarna

 

Tabel Nilai Resistor

Tabel Nilai Resistor

Sebenarnya, cara menghitung nilai resistor gak sulit karena nilaki resistansi yang ada udah ditentukan dalam nilai resistansi tertentu.

Contohnya 10, 100, 120 dan seterusnya yang ditampilkan sebagai kode warna pada badan resistor, jadi buat kamu yang udah biasa dalam menghitung gelang resistor maka udah ketahuan berapa nilainya.

Ada beberapa seri nilai hambatan/resistansi resistor, nama seri tersebut menunjukkan banyak nilai resistansi.

Misalnya, buat seri E6 cuma ada 6 nilai resistor, sedangkan seri E12 yang saat ini banyak dipakai ada 12 nilai resistor.

  • Nilai resistor seri E6 (Toleransi 20%)
  • Nilai resistor seri E12 (Toleransi 10%)
  • Nilai resistor seri E24 (Toleransi 5% dan 1%)
  • Nilai resistor seri E48 (Toleransi 2%)
  • Nilai resistor seri E96 (Toleransi 1%)
  • Nilai resistor seri E192 (Toleransi 0.5%, 0.25% dan 0.1%)

Nah, tadi diatas kamu udah mengetahui tabel nilai resistor yang biasa/sering dipakai.

Berikut ada tabel yang menunjukkan nilai resistor yang umum aja yaitu seri E12 yang terdiri dari 12 kombinasi angka:

Nilai Resistor Seri E12

Kamu jangan beranggapan kalo nilai resistor diatas bersifat kaku, contohnya pada nilai 56, berarti bisa aja resistor punya nilai resistansi 5.6 Ohm, 56 Ohm, 560 Ohm bahkan sampai 5.6 Mega Ohm.


 

Cara Merangkai Resistor

Ada 2 cara buat merangkaikan sebuah Resistor, yaitu sebagai berikut.

1. Cara Serial

Rangkaian resistor secara serial akan mengakibatkan nilai resistansi total semakin besar.

Berikut, dibawah ini contoh resistor yang dirangkai secara serial.

Contoh Rangkaian Resistor Seri

Rumus rangkaian resistor serial:

Rtotal = R1 + R2 + R3

 

2. Cara Paralel

Sedangkan, rangkaian resistor secara paralel akan mengakibatkan nilai resistansi pengganti semakin kecil.

Dibawah ini ada contoh resistor yang dirangkai secara paralel.

Contoh Rangkaian Resistor Paralel

Rumus rangkaian resistor secara paralel:

1/Rtotal = 1/R1 + 1/R2 + 1/R3

Demikianlah beberapa pembahasan lengkap tentang Resistor, semoga bermanfaat!

Rudy Hermawan News

Sumber : https://cerdika.com/resistor/